Our Recent Posts

Tags

Pendidikan Perangkat Keras

Tulisan pada artikel ini adalah bagian dari serangkaian tulisan tentang cara memajukan penguasaan teknologi informasi di negeri ini. Ada beberapa isu terkait yang berperan pada keberhasilan pendidikan perangkat keras. Beberapa isu tersebut antara lain: nama jurusan, penyediaan sarana, sifat dan durasi pendidikan, serta kesesuaian penyerapan alumni terhadap materi pendidikan.

Berbagai istilah untuk teknologi.

Pendirian suatu program pendidikan harus dilandasi visi dan misi. Salah satu masalah yang menghadang dalam pendefinisian visi dan misi adalah banyaknya istilah yang terkait. Saya daftarkan beberapa istilah yang pernah maupun yang masih terkenal : Information Technology, Electronic Data Processing, dan Information Communication Technology.

Esensi istilah-istilah tersebut sama. Tapi pemilihan istilah ini saja akan menimbulkan perdebatan. Para personil pendiri atau dosen biasanya berjuang untuk mendapatkan istilah yang ‘wah dan trendy’..

Berbagai nama jurusan

Bila masalah istilah telah diselesaikan, masalah lain muncul. Masalah ini adalah pemilihan nama jurusan. Mungkin dari berbagai nama jurusan pendidikan perangkat keras komputer yang ada di Indonesia saat ini, hanya ada 3 jurusan yang dominan. Ketiga jurusan itu mencakup Teknik Elektro, Teknik Komputer, dan Teknik Telekomunikasi.

Apakah nama jurusan berperan dalam keberhasilan pendidikan? Ya. Tidak jarang terjadi bahwa seorang mahasiswa tidak begitu berminat dalam pendidikan karena setelah berada di dalam ia merasa jurusan tersebut tidak seperti apa yang ia bayangkan. Perbedaan antara kenyataan dengan apa yang dibayangkan sedikit banyak dipengaruhi oleh nama jurusan / program studi / spesialisasi.

Penyediaan perangkat keras

Bila beberapa orang sudah sepakat bahwa jurusan yang mereka kelola berfokus pada perangkat keras komputer, mereka harus menyepakati perangkat keras apa yang menjadi sarana belajar utama. Harga perangkat keras tertentu sangat mahal.

Sebagai contoh, bila jurusan yang ingin dibuat berfokus pada telekomunikasi, maka para pendiri harus memikirkan penyediaan perangkat keras untuk praktikum. Harga perangkat keras handphone, switch, router, dan modem masih terjangkau. Tetapi harga perangkat keras BTS (Base Transceiver Station) dan satelit tidak terjangkau. Para pendiri jurusan harus berpikir keras untuk menyediakan alat-alat tersebut dalam praktek. Solusi yang biasa adalah kerjasama dengan operator telekomunikasi.

Penyediaan Varian perangkat dan efek terhadap nama

Pada awal dekade 1980 mudah untuk membedakan subjurusan telekomunikasi dengan subjurusan teknik (perangkat keras) komputer. Saat itu tidak ada handphone, PDA (Personal Digital Assistant), smartphone, PDA – phone, atau perangkat-perangkat lain dengan nama-nama yang sangat beragam. Saat itu mustahil programmer biasa dapat memprogram perangkat telekomunikasi dengan mudah. Memprogram perangkat keras telekomunikasi hanya dapat dilakukan dengan perangkat keras khusus.

Sekarang pembedaan jurusan atau subjurusan itu menjadi lebih rumit. Saya telah mencoba memberi solusi tentang pemakaian perangkat keras yang disesuaikan terhadap fokus pendidikan. Tetapi nama jurusan masih memiliki masalah yang terkait dengan perangkat keras. Apakah namanya ‘Teknik Perangkat Keras Komputer’ dan ‘Teknik Perangkat Keras Telekomunikasi’ ?

Apa yang disebut ‘Komputer’ saat ini dalam prakteknya hadir dengan banyak nama. Handphone, PDA, Smartphone adalah komputer. Perangkat keras dari tipe-tipe di atas dapat diprogram, dan dalam sebagian kasus programnya dapat berupa perangkat lunak yang dapat diubah.

Solusi terhadap masalah nama jurusan adalah tetap memakai kata komputer seperti pada frasa ‘Teknik Perangkat Keras Komputer’. Kekurangjelasan dapat diminimalkan dengan paparan yang baik pada brosur dan website.

Perlukah? Kepedulian akan industri

Sekarang sebuah pertanyaan yang sangat penting adalah ‘Perlukah pendidikan perangkat keras komputer dan perangkat keras telekomunikasi’ ? Dengan cara yang sekarang tidak perlu.

Kata Teknik pada jurusan-jurusan yang sekarang ini kurang tepat dalam menggambarkan esensi pelajaran yang seharusnya diberikan di banyak jurusan. Kata ‘Rekayasa’ (engineering dalam bahasa Inggris) lebih tepat. Rekayasa Perangkat Keras Komputer dan Rekayasa Perangkat Keras Telekomunikasi adalah nama-nama jurusan yang lebih tepat untuk menggambarkan isi buku-buku teks yang dipakai.

Tujuan pendidikan dari kedua jurusan tersebut adalah menghasilkan computer hardware engineer dan telecom hardware engineer (telecommunication sering disingkat telecom). Anda dapat melihat iklan-iklan perusahaan operator telekomunikasi dan pembuat perangkat keras telekomunikasi yang mencari network engineer, telecom engineer, dan radio (network) engineer.

Mengingat esensi pendidikan yang seharusnya, pendiri jurusan-jurusan di atas harus bertanya : apakah ada industri yang menampung lulusannya? Apakah di Indonesia ada industri pembuatan perangkat keras komputer dan industri pembuatan perangkat keras telekomunikasi yang dapat menampung lulusannya untuk menerapkan sebagian besar ilmu di kuliah ? Tidak. Bilapun ada pabrik perangkat keras telekomunikasi dan komputer di Indonesia, lulusan sekolah teknik di sini paling hanya menjadi supervisor, manager, sales engineer, atau yang lainnya.

Untuk sekedar wawasan?

Argumen yang cukup sering diajukan tentang perlunya pendidikan perangkat keras adalah peningkatan wawasan. Alumni dan pelaku pendidikan menganggap bahwa kita tidak harus bekerja sesuai latar belakang pendidikan.

Argumen ini sah untuk level pribadi. Tapi jumlah uang yang dikeluarkan untuk ‘menambah wawasan’ ini sangat besar pada level nasional, karena jumlah mahasiswa teknik elektro dan teknik telekomunikasi yang cukup besar.

Dalam skala besar seperti ini, biaya dan upaya yang sudah dikeluarkan terlalu besar. Sudah berapa ribu orang mempelajari puluhan buku teks dengan jumlah halaman total mencapai puluhan ribu tapi tidak memberi hasil yang seharusnya? Adalah lebih baik untuk memakai uang dan usaha tersebut ke sesuatu yang lebih produktif.

Jadi, walau secara pribadi alasan menambah wawasan dapat diterima; dalam level nasional alasan ini tidak dapat diterima. Kita secara nasional telah membuang begitu banyak uang, waktu, dan tenaga. Menambah wawasan tentang perangkat keras komputer dan telekomunikasi tidak harus dengan membaca puluhan ribu halaman buku teks, puluhan buku teks, dalam jangka waktu 4 tahun, dan dilakukan oleh sangat banyak orang seperti saat ini.

Sebuah pengalaman pendidikan di luar negeri

Pendidikan level S2 (Strata 2) saya adalah pada bidang telekomunikasi, persisnya M. Sc in Operational Telecommunication. Pendidikan berlangsung di Cable & Wireless College, college yang didirikan sebuah perusahaan telekomunikasi internasional yang cukup berpengaruh : Cable & Wireless. Banyak porsi pendidikan membahasa perangkat keras telekomunikasi.

Ada hal menarik dari lembaga pendidikan tersebut, yang terkait dengan topik pendidikan perangkat keras. Pertama, adalah tersedianya sarana-sarana perangkat keras yang jarang ditemukan pada saat itu di Indonesia. Mahasiswa angkatan tahun 1995 sudah dapat memakai perangkat keras mobile phone, fixed phone untuk teleconferencing (dengan jumlah partisipan 3 atau lebih), antena BTS, dan ATM (Asynchronous Transfer Mode). Perangkat-perangkat keras ini dipakai untuk penelitian dan pembuktikan teori. Apakah ada lembaga pendidikan perangkat keras di sini yang dapat menyediakan perangkat-perangkat keras tersebut dalam keadaaan yang tidak berbeda terlalu jauh dengan keadaan yang current ?

Perusahaan yang melakukan riset

Sebuah perusahaan bernama Qualcomm berperan dalam mewujudkan sebuah temuan bernama CDMA (Code Division Multiple Access) ke masyarakat. Mungkin Qualcomm bukan perusahaan pertama yang menyelidiki CDMA, dan mungkin Qualcomm juga bukan perusahaan pertama yang coba memasarkan CDMA. Tetapi Qualcomm adalah perusahaan yang berhasil meyakinkan masyarakat industri dan masyarakat pemakai untuk mengembangkan dan memakai teknologi CDMA.

Dalam kasus di Indonesia, masuk akalkah harapan kita akan adanya perusahaan seperti Qualcomm? Bila harapan ini tidak masuk akal, tentunya jumlah jurusan pendidikan perangkat keras telecom dan komputer juga tidak masuk akal. Mayoritas alumni tidak akan menemukan wadah yang tepat yang sesuai dengan pendidikannya.

Nice-to-have dan persaingan dengan para otodidak

Sadar atau tidak, suka atau tidak, pendidikan perangkat keras di negeri ini efektifnya menghasilkan alumni yang secara mayoritas akan menganggap pendidikan tersebut bersifat nice-to-have, memberi wawasan. Sebagian kecil alumni berusaha membuat pendidikan tersebut tidak nice-to-have.

Apa wujud usaha mereka ini? Sebagian besar hanya akan menjadi dosen di dalam negeri. Sebagian kecil yang beruntung akan dapat bekerja di luar negeri (baik sebagai dosen maupun praktisi/engineer). Sebagian kecil mungkin akan bekerja di industri yang sedikit memanfaatkan ilmu mereka. Bila beruntung, penghasilannya cukup baik; bila tidak, penghasilannya pas-pasan.

Untuk alumni yang tetap menerapkan ilmunya dan bekerja di Indonesia, dan mendapat penghasilan yang pas-pasan; biasanya ada fenomena di internal keluarga. Besar kemungkinan istri/suami akan sering mempertanyakan mengapa dia mempertahankan idealismenya. Istri/suami juga mungkin akan menunjuk bahwa orang yang tidak kuliah saja bisa terjun di industri telekomunikasi dengan menjadi pelaku dan/atau pemilik jasa di bidang telekomunikasi bergerak (reparasi handphone, kolumnis, membuat majalah, menjadi konsultan, penyedia content). Hal yang mirip terjadi untuk alumni industri perangkat keras komputer.

Bersaing dengan alumni pendidikan perangkat lunak

Efek tidak tersedianya pekerjaan yang seharusnya bagi alumni pendidikan perangkat keras adalah masuknya mereka ke pekerjaan yang seharusnya ditempati software engineer. Hal ini adalah salah satu sebab sangat banyak alumni pendidikan teknik elektro yang akhirnya menjadi programmer atau praktisi teknologi olah data. Kejadian yang mungkin ‘lebih parah’ adalah banyaknya alumni teknik elektro menjadi dosen di jurusan Informatika. Politeknik Informatika Del di Laguboti hanya salah satu contoh. Kebanyakan dosennya justru adalah alumni teknik elektro, bukan teknik informatika.

Engineer dalam sense kedua, sebuah kompromi?

Mungkin kita bisa berkompromi untuk menyediakan pendidikan perangkat keras yang tepat guna. Dalam hal apa? Dalam hal perangkat keras telekomunikasi, bukan perangkat keras komputer.

Iklan dari berbagai operator dan vendor perangkat keras telekomukasi sering mencantumkan frasa Radio Engineer, Network Engineer, dan Telecom Engineer. Engineer dalam ‘sense’ ini bukan perekayasa, mereka tidak merekayasa perangkat keras. Mereka adalah personil yang sangat mengerti pemakaian perangkat keras.

Mungkin ada perlunya pendidikan perangkat keras untuk menghasilkan personil-personil di atas. Masalahnya berapa lama dan pada strata berapa pendidikan seperti itu? Lamanya maksimal 2 tahun, dan strata 2. Pendidikan ini tidak bersifat nice-to-have, tetapi menghasilkan engineer dalam sense kedua di atas.

Khusus untuk perangkat keras komputer, lama pendidikan juga maksimal 2 tahun, dan strata 2. Pendidikan ini bersifat nice-to-have, tidak menghasilkan engineer. Tahun pertama berkonsentrasi pada perangkat keras, sedangkan tahun kedua pada aspek manajemen teknologi olah data.

Penutup

Jelaslah bahwa secara umum, pendidikan perangkat keras komputer dan telekomunikasi di Indonesia ini masih bersifat sekedar nice-to-have atau ‘menambah wawasan’. Dengan sifat seperti ini, pendidikan perangkat keras komputer dan telekomunikasi sebaiknya didominasi pendidikan pada level S2 karena pendidikan pada level S2 memang biasanya bersifat ‘menambah wawasan’.

Pendidikan level S1 yang bertujuan untuk membangun perekayasa sebaiknya hanya ada pada PT (Perguruan Tinggi) yang berkonsentrasi untuk menghasilkan alumni dengan pasar yang sempit, alumni yang mutunya sangat tinggi untuk menjadi kandidat doktor dalam bidang tersebut. Dengan cara seperti ini, maka pemborosan biaya oleh beberapa pribadi dapat diminimalkan. Ini adalah salah satu langkah awal untuk meningkatkan penguasaan teknologi informasi (olah data) di Indonesia.

Pustaka

[Tane1999] Andrew S. Tanenbaum; Structured Computer Organization,4th ed; Prentice Hall

[Tane2003] Andrew S. Tanenbaum; Computer Networks,4th ed; Prentice Hallperangkat.

©2018 by Pemrograman. Proudly created with Wix.com